Saturday, April 9, 2011

Koran Komisariat UNPAD April

KESAKSIAN PASKAH

“Kamu sendiri mengatakan bahwa Aku lah Anak Allah”
(Lukas 14:70; 66-71)
Aku bukan siapa-siapa. Namaku bahkan tidak penting bagi siapa-siapa. Namaku selalu disebutkan sejalan dengan tugasku. Aku, sekali pun namaku tidak disebut, orang sudah tahu., karena aku adalah aku yang selalu mengerjakan kepentingan majikanku. Itu saja, karena ada banyak hal yang tidak penting mengenai aku. Yang paling penting bagiku ialah begini, “aku ada di lingkungan orang besar” karena itu, pekerjaanku, peranku, dan namaku menjadi penting, tetapi, aku tetap aku yang selalu identik dengan pekerjaanku.
Hari ini ada tugas istimewa, karena di tempat aku berkarya ada “tamu penting”, tetapi yang mengherankan ialah, aku tidak ditugasi untuk melayani tamu penting dimaksud seperti biasanya. Tidak ada air pembasuhan yang disediakan baginya untuk membasuh muka dan kaki-tangan, tidak ada handuk kering yang disediakan seperti biasanya bagi tamu terhormat itu sebagai tanda kehormatan.
Tetapi aku tahu orang itu! Betapa tidak? Aku mendengar dari banyak sumber tentang kehebatan-Nya. Ia lebih hebat dari para tabib yang terkenal di negeri ini, karena Ia menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan sekali bersabda! Kabarnya, Ia pun memberi makan kepada beribu-ribu orang, membangkitkan orang mati, dan banyak lagi pekerjaan ajaib yang dikerjakan-Nya, karena itu nama-Nya sudah sangat tersohor dikalangan banyak orang.
Bahkan barusan minggu lalu, Ia menimbulkan kehebohan besar. Ia masuk ke Kota Suci dengan mengendarai “anak keledai” yang menandakan bahwa Ia adalah Raja. Orang orang disepanjang jalan berseru, hosanna …., hosanna …., bagi Anak Daud. Jalan-jalan menjadi macet dengan kehadiran-Nya. Banyak orang yang datang dari berbagai penjuru menjelang hari Raya Besar tahun ini, terhenyak dan terkagum-kagum akan apa yang sedang terjadi. Ia menuju ke Bait Suci di mana orang biasanya beribadah. Di situ Ia membersihkannya dengan menghalau para pedagang kaki lima dan para penukar uang, sebagai lambang penyucian dan penyataan kesucian dari Sesembahan-Nya. Alasan-Nya yang paling kuat untuk mengerjakan tugas mulia itu adalah seperti yang dikatakan-Nya sendiri., “ini rumah Bapa-Ku, jangan kamu menjadikannya seperti sarang penyamun!” Sementara banyak orang kebingungan dan hiruk pikuk, Ia berseru dengan suara lantang, “kalau kamu mau, runtuhkanlah Tempat Suci ini, dan Aku akan membangunkannya dalam tiga hari.”  Seluruh rakyat terpikat kepada-Nya, dan ingin mendengarkan tentang DIA (Lukas 19:48b). Kondisi saat itu sangat genting menjelang Hari Raya Besar, dan Para Pemimpin Pemerintahan mau pun Agama menjadi ketakutan, kalau-kalau akan ada “revolusi rakyat” oleh karena tindakan serta ajaran-Nya, dan negara menjadi kacau., dan yang penting, bisnis mereka terganggu. Kalau begitu, biangnya harus dibasmi.
Aku sendiri tidak mengerti tentang semua yang sedang terjadi itu, namun yang terpenting ialah bahwa “Orang Penting” itu sekarang ada di rumah majikanku. Tetapi, aku terus bertanya, “bila “Orang Besar” itu tidak diperlakukan sebagai “tamu penting,” maka ada apa gerangan?  Aku coba-coba mencuri berita, pasang telinga! Apa yang terjadi membuatku terperangah! Tangan-Nya dibelenggu, aku, bahkan aku mendengar kata-kata dari bicara kasar yang bernada tuduhan, “Apakah Engkau adalah Mesias, Anak dari Yang Terpuji?” Pertanyaan itu sudah santer di kalangan umum, karena dari banyak kalangan aku dengar bahwa banyak orang sedang mengharapkan kedatangan Mesias, yaitu Juruselamat. Dan berita ini membahayakan posisi para pemimpin saat itu. Selanjutnya, aku bahkan tidak percaya, akan apa yang aku lihat, sesuatu yang ironis terjadi! “Orang Besar” itu ditampar, Ia diejek, dan ludahi di depan banyak orang! Hatiku sedih bercampur gundah, aku bertanya dalam hatiku, “Mengapa Orang Besar ini dihina sedahyat itu? Aku harus tahu jawabannya! Tetapi, yang paling berbahaya ialah kehadiranku ditempat penting ini. Aku harus segera minggat, kalau tidak, bila kedapatan, aku bakalan digampar, dipecat.
Aku terus memutar otak, dari siapa aku dapat memperoleh jawaban atas keanehan yang aku saksikan ini? Mengapa “Orang Besar” yang aku tahu adalah “Orang Benar” itu diperlakukan dengan semena-mena? Aku terus menyelinap ke luar. Apakah di halaman di bawah sana aku dapat memperoleh jawabannya tentang apa yang aku ingin tahu dari seseorang? Aku membinarkan mataku memandang sekeliling. Aku sudah terbiasa menyaksikan kehadiran banyak orang di tempat majikanku, di  pasar, dan di tempat di mana aku menyertai “nyona besar-ku”.
Aku tatap orang-orang di halaman itu satu-satu. Mataku tertumbuk kepada seseorang.  Badannya kekar, tinggi, besar dan wajahnya brewokan. Dugaan kuatku ialah bahwa ia tentu tidak berasal dari daerah sekitar sini. Sangat mungkin ia berasal dari daerah sekeliling danau terkenal di sebelah utara itu. Aku bahkan bisa menduga apa saja pekerjaannya, karena aku pernah melihatnya, minggu lalu kalau tidak salah.
Tetapi yang paling penting ialah bahwa aku bisa memperoleh jawaban dari orang ini. Aku bisa membayangkan tentang orang ini tatkala aku melihat ia tampil gagah mendampingi Orang Besar di dalam sana itu. Aku masih ingat, saat Orang Besar itu memasuki Kota Suci menunggang keledai dan terjadi kemacetan besar di jalan-jalan, orang laki-laki kekar ini tampil perkasa sebagai layaknya kepala “body guard” sambil menghalau kerumunan orang yang menghalang jalan bagi Tuan-nya. Hebat nian laki-laki ini!
Aku terhenyak, dari lamunanku! Aha, aku kira aku bisa memperoleh jawaban tentang Beliau di dalam itu dari pada laki-laki ini. Laki-laki kekar itu berangsut pindah mendekat ke api unggun untuk berdiang, maklum hari semakin larut dan dingin pula. Bagaimana mendekati dia? Aku pura-pura membenahi api unggun itu di mana ia berdiang. Aku dekati laki-laki itu, kutatap wajahnya yang sangar dan memberanikan diriku untuk membuka percakapan. “Om, aku lihat engkau biasa selalu bersama-sama dengan “Orang Penting” (dari Nazaret) itu! Aku pasti tidak salah kenal, Om selalu terlihat bersama-sama dengan Dia, khususnya minggu yang baru berselang, aku menyeletuk penuh keyakinan. Dan, aku menunggu! Tahukah Anda, apa jawabannya? Jawabannya bagi telingaku bagaikan sambaran petir di siang bolong yang menggelegar. “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud.” Haa? Inikah jawabnya? Aku pikir aku salah dengar. Aku bertanya sendiri dalam hatiku, inikah jawabannya? Mengapa ia sudi menjawab seperti itu? Hatiku terguncang, aku kecewa. Aku pikir orang ini akan seberani penampilannya di jalan itu sewaktu mendampingi Orang Besar itu. Ternyata ia cuma ayam sayur, berjiwa krupuk, tidak teguh, pengecut! Aku terus penasaran, aku berpikir, “apakah laki-laki ini tidak sadar dan tidak mengerti bahwa hubungan dekatnya dengan Orang Besar itu adalah hak istimewa dan kepercayaan istimewa?” Aku bahkan iri padanya, karena hubungannya dengan Orang Besar itu.
Tetapi, mengapa ia tidak berani teguh mempertahankan identitas hubunganya dengan orang besar itu?  Apa yang salah padanya? Tidak ada jawaban. Selanjutnya aku mulai mengkritik dia dalam hati ku. Aku berbicara sendiri, “macam apa orang ini?” Dia ini orang rendah, orang tidak punya prinsip, orang plin-plan, orang yang tidak tahu diri, orang hina! Aku semakin penasaran, aku menguntit dia terus walau pun ia berusaha menjauhi aku. Ia berupaya menghindar dengan “pergi ke serambi muka” dekat dengan tempat Orang Besar itu diinterogasi. Dia pikir sudah aman di situ. Aku terus mendekati dia, dan kupikir, hah, ini saat yang tepat untuk mendesak dia. Aku menarik perhatian banyak orang di tempat itu dengan menyaringkan suaraku. Hei, dengar, “orang ini adalah salah seorang dari mereka.” Ia berupaya keras untuk menyangkal lagi. Tetapi, orang-orang yang berada di tempat itu mulai memihak kepadaku. Mereka berkata, “Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau orang yang berasal dari danau besar itu!” Kemudian, aku menyaksikan pancaran kengerian pada wajah laki-laki itu! Bahkan aku mendengar kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan oleh orang seperti dia itu. Ia berani menipu, mungkin karena ketahutan, ia mulai menyangkal bahwa ia adalah salah seorang dari pengikut Orang Besar yang mulia itu. Ia membela diri dengan mengutuk dan bersumpah. Coba anda bayangkan apa yang dikatakannya, “Aku tidak mengenal orang yang kau sebut-sebut ini.” Hatiku semakin galau, aku mulai menghakimi laki-laki itu dengan sengit dalam hatiku. Ini orang yang tidak tahu diri, orang yang tidak kenal diri, orang yang tidak menghargai hubungan dengan orang lain, orang yang takabur, orang yang bobrok imannya!
Aku kemudian terhenyak sendiri, orang macam apa aku ini? Jangan-jangan aku mulai linglung sendiri, sok mengkritik orang lain! Bagaimana kalau aku sendiri dikritik? Tetapi aku kemudian berkesimpulan, “ah, biasa, dasar manusia, semuanya sia-sia!” Hei, jangan-jangan aku sendiri yang ngantuk dan terdorong karena penasaran saja karena ingin tahu berita tentang Orang Besar dari laki-laki konyol itu, dan ternyata ia tidak teguh bersaksi tentang hubungan istimewanya dengan DIA, Orang Besar itu. Kasihan!!! Aku kemudian tersentak dari lamunanku, karena kudengar ayam berkokok untuk kedua kali. Ini tentu sudah larut, hari menjelang pagi. Tetapi aku kemudian terpana dan terhenyak, tatkala kulihat suatu adengan penuh kuasa, tatkala kusaksikan sorotan mata suci dari Orang Besar itu, yang menoleh dan memandang kepada laki-laki itu. Mata suci Orang Besar itu begitu tajam menusuk sampai ke batin laki-laki itu. Kusaksikan keguncangan jiwa yang hebat, terpancar pada wajahnya oleh tatapan Mata Suci itu. Ia luluh dibawah tatapan Mata Suci itu, ia hancur dan berangsut pergi ke dalam keremangan pagi. Kukuntit dia lagi, aku ingin mengetahui apa yang terjadi padanya. “Ia menangis terseduh sedan.” Ia rupanya menyesal karena telah menyangkal “Junjungan-nya yang mulia itu.”
Menyaksikan adengan itu, aku mulai berubah pikiran. Kusimpulkan sendiri bahwa laki-laki itu pasti ada hubungan dekat dan intim dengan Orang Besar itu. Ia sekarang menyadari kesalahannya, ia bertobat. Rasanya ia mulai bangkit dari kekerdilan jiwanya, keluar dari kekecilan hatinya. Sepertinya ia mulai siap untuk mempertahankan kesaksianya, bahwa ia dekat dengan Orang Besar Yang Benar itu, orang yang dinista walau pun tidak berdosa, orang yang dihina dan direndahkan dengan semena-mena. Namun, dengan satu tatapan suci Ia membaharui hidup laki-laki yang porak poranda itu! Luar biasa!
Kini aku bertanya kepada diri sendiri, apa yang dapat kupelajari dari pengalaman suci di pagi yang remang ini? Paling tidak ada dua hal yang dapat kupelajari dari pengalaman enkonter dengan DIA, yaitu: Pertama, Hubungan dengan Orang Besar itu adalah hak istimewa, yang merupakan dasar kuasa untuk bertahan menghadapi tekanan, ancaman bahkan godaan dalam hidup. Kedua, hubungan dengan Orang Besar itu merupakan anugerah khusus untuk mengalami pembaruan yang membawa pertobatan sejati, mengalami revitalisasi untuk bangkit, teguh dan menjadi saksi-Nya. Salam Paskah.
By : Pdt. Yakob Tomatala

Faith
Maria kecil yang berusia sepuluh tahun tinggal do sebuah desa pinggiran kota di Chili tengah. Ketika ibunya menginggal, Maria menjadi ibu rumah tangga, merawat ayahnya yang bkerja giliran malam di sebuah pertambangan lokal. Maria memasak, membersihkan rumah, dan memastikan bahwa makanan ayahnya sudah siap saat ia meninggalkan rumah untuk bekerja setiap malam.

Maria mengasihi ayahnya dan khawatir melihat betapa ia menjadi begitu sedih sejak kematian ibunya. Maria pergi ke gereja setiap m,inggu dan merusaha mengajak ayahnya untuk pergi bersamanya, tetapi ia menolak. Hatinya terlalu kosong.

Suatu malam, sementara Maria menyiapkan makanan untuk ayahnya, ia menyelipkan sebuah Injil kecil ke kotak makanannya. Ia mendapat Injil kecil itu dari seorang pekerja misionari yang membagikannya dari rumah ke rumah di daerah mereka. Maria berdoa agar ayahnya membacanya dan memperoleh penghiburan seperti yang telah Maria temukan dalam kasih Allah yang besar.

Pada pukul 01.10 pagi Maria tiba-tiba terbangun karena suara yang mengerikan, peluit darurat di pertambangan itu meraung dalam kegelapan, memanggil para penduduk kota untuk segera datang dengan cangkul dan tangan yang siap untuk membantu menggali para penambang yang terjebak di gua bawah tanah.

Maria berlari ke tambang untuk mencari ayahnya. Beberapa orang dengan panik menggali reruntuhan terowongan yang ambruk dan mengurung delapan orang. Salah satunya adalah ayah Maria.

Para petugas darurat bekerja sepanjang malam dan akhirnya berhasil menembus sebuah gua kecil dimana mereka menemukan para penambang itu. Sungguh sayang, mereka sudah terlambat. Ke delapan pria itu telah meninggal karena tidak bisa bernafas.

Para petugas penyelamat itu sangat menyesal, tetapi saat mereka mengamati keadaan, mereka melihat bahwa para penambang itu meninggal dalam posisi duduk membentuk lingkaran. Saat para petugas melihat lebih dekat, mereka menemukan bahwa ayah Maria duduk dengan sebuah Injil kecil di pangkuannya yang terbuka pada halamam terakhir di mana rencana keselamatan dijelaskan secara gamblang. Pada halaman itu, ayah Maria menuliskan sebuah pesan khusus untuk putrinya:

"Maria yang terkasih, saat kau baca pesan ini, Ayah sudah berada bersama ibumu di surga. Ayah membaca buku kecil ini, kemudian membacakannya beberapa kali kepada orang-orang ini sementara kami menunggu diselamatkan. Harapan kami akan hidup ini memudar, tetapi tidak demikian dengan hidup yang akan datang. Kami melakukan apa yang diajarkan dalam buku ini dan berdoa, meminta Yesus masuk ke dalam hati kami. Ayah sangat menyayangimu, Maria, dan suatu hari kelak, kita semua akan bersama-sama di surga.

Dick eastman, Buku "Heart for a friend"


Tersenyum Selalu
Ini adalah cerita seorang ibu yg akan menyelesaikan skripsinya. This is really a good story....

Saya adalah ibu tiga orang anak (umur 14, 12, dan 3 tahun) dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikannya diberi nama "Tersenyum". Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan tersenyum kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka. Saya adalah seorang yang mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang dan mengatakan "hello", jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Segera setelah kami menerima tugas tsb, suami saya, anak bungsu saya, dan saya pergi ke restoran pada suatu pagi di bulan Maret yang sangat dingin dan kering. Ini adalah salah satu cara kami dalam antrian, menunggu untuk dilayani, ketika mendadak setiap orang di sekitar kami mulai menyingkir, dan bahkan kemudian suami saya ikut menyingkir. Saya tidak bergerak sama sekali... suatu perasaan panik menguasai diri saya ketika saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir.

Ketika berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang sangat menyengat, dan berdiri di belakang saya dua orang lelaki tunawisma. Ketika saya menunduk melihat laki-laki yang lebih pendek, yang dekat dengan saya, ia sedang "tersenyum".

Matanya yang biru langit indah penuh dengan cahaya Tuhan ketika ia minta untuk dapat diterima. Ia berkata "Good day" sambil menghitung beberapa koin yang telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua memainkan tangannya dengan gerakan aneh sambil berdiri di belakang temannya.

Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental dan lelaki dengan mata biru itu adalah penolongnya. Saya menahan haru ketika berdiri di sana bersama mereka.

Wanita muda di counter menanyai lelaki itu apa yang mereka inginkan. Ia berkata, "Kopi saja, Nona" karena hanya itulah yang mampu mereka beli. (Jika mereka ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh mereka, mereka harus membeli sesuatu. Ia hanya ingin menghangatkan badan). Kemudian saya benar-benar merasakannya - desakan itu sedemikian kuat sehingga saya hampir saja merengkuh dan memeluk lelaki kecil bermata biru itu. Hal itu terjadi bersamaan dengan ketika saya menyadari bahwa semua mata di restoran menatap saya, menilai semua tindakan saya.

Saya tersenyum dan berkata pada wanita di belakang counter untuk memberikan saya dua paket makan pagi lagi dalam nampan terpisah. Kemudian saya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya. Saya meletakkan nampan itu ke atas meja dan meletakkan tangan saya di atas tangan dingin lelaki bemata biru itu.

Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang, dan berkata "Terima kasih." Saya meluruskan badan dan mulai menepuk tangannya dan berkata, "Saya tidak melakukannya untukmu. Tuhan berada di sini bekerja melalui diriku untuk memberimu harapan."

Saya mulai menangis ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan suami dan anak saya. Ketika saya duduk suami saya tersenyum kepada saya dan berkata, "Itulah sebabnya mengapa Tuhan memberikan kamu kepadaku, Sayang. Untuk memberiku harapan." Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan pada saat itu kami tahu bahwa hanya karena Kasih Tuhan kami diberikan apa yang dapat kami berikan untuk orang lain.

Hari itu menunjukkan kepadaku cahaya kasih Tuhan yang murni dan indah. Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah, dengan cerita ini ditangan saya. Saya menyerahkan "proyek" saya dan dosen saya membacanya. Kemudian ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkan saya membagikan ceritamu kepada yang lain?" Saya mengangguk pelahan dan ia kemudian meminta perhatian dari kelas. Ia mulai membaca dan saat itu saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk disembuhkan..

Dengan caraNya sendiri, Tuhan memakai saya untuk menyentuh orang-orang yg ada restoran tersebut, suamiku, anakku, guruku, dan setiap jiwa yang menghadiri ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari: PENERIMAAN YANG TAK BERSYARAT.

Banyak cinta dan kasih sayang yang dikirimkan kepada setiap orang yang mungkin membaca cerita ini dan mempelajari bagaimana untuk MENCINTAI SESAMA DAN MEMANFAATKAN BENDA-BENDA BUKANNYA MENCINTAI BENDA DAN MEMANFAATKAN SESAMA.


Bagian Terpenting Dari Tubuhmu

Ibuku selalu bertanya padaku, apa bagian tubuh yang paling penting.

Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu." Tapi, ternyata itu bukan jawabannya.

"Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakan lagi nanti."

Beberapa tahun kemudian, aku mencoba menjawab, sebelum dia bertanya padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar. Jadi, kali ini aku memberitahukannya. "Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita."

Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta."

Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, Anakku."

Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.

Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?"

Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku. Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, "Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar "hidup".

Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus mendapat pelajaran yang sangat penting." Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air. Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu."

Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?"

Ibu membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangi ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya."

Akhirnya, aku tahu.

Bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri.
Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialami oleh orang lain.

Orang akan melupakan apa yang kamu katakan.
Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan.
Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.

Friday, March 4, 2011

Koran Komisariat UNPAD Maret


Saatnya Bersatu
Beberapa bulan yang lalu kita selalu melihat perseteruan antara LPI dan PSSI. LPI dinyatakan ilegal dan bukan sebuah turnamen yang diakui oleh FIFA. PSSI juga membuat sanksi kepada setiap pemain yang berlaga di LPI tidak dapat memperkuat timnas.
Tentu hal itu bukan menjadi harapan kita. Kita mengingginkan supaya pemain yang berlaga di LPI dapat memperkuat timnas. Banyak pemain  hebat yang ingin membela timnas Indonesia berlaga di LPI, tetapi dengan adanya sanksi tersebut mereka seperti patah semangat untuk dapat membela timnas Indonesia. Mereka sekarang berharap supaya mereka dapat membela timnas Indonesia biarpun berlaga di LPI.
Sebaiknya LPI dan PSSI duduk bersama untuk menyelesaikan perseteruan ini. Saya sangat mengingginkan masalah ini cepat selesai untuk kemajuan sepak bola Indonesia. Seluruh bangsa Indonesia ingin melihat pasukan garuda mengangkat trofi lagi, kami ingin melihat suatu kemajuan didalam sepak bola Indonesia bukan ingin melihat sepak bola Indonesia yang sudah merosot menjadi lebih merosot lagi.
LPI dan PSSI pasti mempunyai visi untuk memajukan sepak bola Indonesia menjadi lebih baik. Menurut saya visi itu tidak akan terwujud sebelum adanya kesatuan antara LPI dan PSSI. Bravo sepak bola Indonesia.     
-          Dior (Kabid. Internal Komisariat Unpad GMKI Bandung)        -
Terbit di Koran bola edisi Senin-Rabu, 31 Januari – 2 Februari 2011 (No. 2.152)

Masalahmu tidak sebesar masalahnya...bersyukurlah.
Senin, 28 Februari 2011.

Kurasa hari itu adalah hari yang sangat berat untuk berlalu, 24 jam serasa lambat mengalun.
Hari ini bertubi – tubi masalah yang menghampiri. bahkan hal yang sudah pasti berada dalam genggaman tangan bisa begitu saja lenyap, entah angin dari belahan dunia mana yang menyambarnya...serasa tidak percaya memang...namun inilah faktanya.
dan Malam itu  angin malam  membawaku bertemu dengan fikri, seorang anak yang sedang menjajakan bunga dibawah jalan layang Cikapayang, Dago. Sambil memegang sebungkus jus jeruk aku mengamati apa yang dilakukan anak ini.
Badannya mungil, sesuai dengan usianya yang baru menginjak 9 tahun. Fikri dengan pakaian seadanya sangat semangat menggenggam bunga yang boleh jadi bekal makan untuk esok hari jika terjual. begitu lampu merah menyala, kakinya berlari spontan menghampiri mobil yang berhenti, menawarkan bunga.
Ia berjualan bersama kakaknya, Sri namanya kelas anak yang baru duduk di kelas 5 SD, dan bersama sesosok pria, ayahnya fikri berujar,  yang selalu menggandeng tangan Sri sambil berjalan meraba - raba. Iyap, beliau tidak dapat melihat cahaya. ini masalah bagi fikri??tentu.
Belum habis rasa kagumku akan anak yang satu ini, pertanyaan selanjutnya yang kulontarkan : Ibunya mana??
fikri dengan senyum simpul menjawab : dirumah a' . aku tidak habis pikir, kenapa seorang ibu tega membiarkan anaknya yang masih seusia fikri berjualan di malam hari, sementara seharusnya ia menghabiskan waktunya dengan belajar dan bermain sementara sosok yang seharusnya mengayominya nyaman dengan kondisinya di rumah, membiarkan anak dan suaminya mengais rezeki hingga malam menjelang. Ternyata bunyi sedotan jus jeruk yang kubawakan menghantarkan fikri menyampaian hal yang membuatku terperanga, ternyata ibu dari anak ini menderita kelumpuhan permanen yang mengharuskannya tinggal dirumah. hal sederhana yang kupikirkan saat itu,  kurang besar apa msalah yang dihadapi anak ini??namun ia seolah menghadapinya dengan keceriaan, hingga seolah itu bukan masalah baginya...anak yang luar biasa...tersenyum dibaik masalah.

malam itu aku menganggap,  masalahku sudah menjadi masalah terberat sedunia, membuatku merasa ingin mengasingkan diri ke dunia yang tanpa masalah...yang hanya penuh dengan tawa, dan kebahagiaan. Namun ternyata begitu mudah menemukan masalah yang lebih rumit dan lebih berat dari apa yang ku alami.hanya perlu kurang dari 50 ml bensin. jadi tidak ada alasan untuk jadi orang yang selalu menggerutu dan mengeluh dengan masalah..

karena :
Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi. Bukan pula, eraman hangat di malam-malam yang dingin. Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tebing yang tinggi. Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan, matilah aku! Sesaat kemudian, bukan kematian yang kita terima, namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang. Bila anda tak berani mengatasi masalah, anda tak akan menjadi seseorang yang sejati. 

Bersyukurlah untuk masalah yang ada, ini anugerah.
Karena Yang memisahkan anda dengan keberhasilan adalah msalah yang menantang...:)

-          Paulus Lubis (Ketua Badan Pengurus Cabang GMKI Bandung)      -

Dibalik Kisah Seorang Papa

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,

tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,

tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......

Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.

Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...

Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,

Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.

Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"

Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :

"Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.

Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja....

Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".

Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?

Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...

Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,

Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')

Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...

Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?

"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa....

Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...

Papa harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?

Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.

Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".

Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.

Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"

Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.

Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.

Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..

Karena Papa tahu.....

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya....

Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....

Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik....

Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....

Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....

Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....

Papa telah menyelesaikan tugasnya....

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita...

Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...

Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

Hati Seorang Ayah                                                                 

Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya, "Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?" Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu berguman : "Aku tidak mengerti." Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya :"Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"Ibunya menjawab: "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban Sang Bunda.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran.

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa
penasarannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. "

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. "

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. "

"Kuberikan Keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya."

"Ku berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya. "

"Ku berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan mengasihi sesama saudara."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani. dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia dan BADANNYA YANG TERBUNGKUK agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya. "

"Ku-berikan Kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai Pemimpin keluarga, sebagai Tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di Dunia dan Akhirat."

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya." AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH."

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah.

Sunday, February 6, 2011

Koran Komisariat UNPAD Februari

Valentine, Kisah Pengorbanan si Pendeta Baik hati
Di berbagai belahan dunia, orang beramai-ramai mengamini bahwa tanggal 14 Februari adalah hari Valentine. Di Indonesia pun, sebagian orang turut menyambut gembira datangnya hari kasih sayang ini, meskipun sebenarnya mereka tak tahu pasti mengapa harus ikut merayakan hari tersebut.
Bukankah untuk menunjukkan rasa sayang kita terhadap teman, kekasih ataupun keluarga kita tak perlu menunggu datangnya tanggal 14 Februari, kita bisa menunjukkannya setiap hari. Kita juga tak perlu mengeluarkan uang banyak untuk membeli coklat, bunga dan pernak-pernik lainnya untuk menunjukkan rasa sayang kita, cukup dengan perhatian yang tulus.
Terlepas dari itu semua, marilah kita kupas secara detail keistimewaan hari Valentine yang kedatangannya selalu membuat dunia menjadi serba 'merah muda'.
Beberapa para ahli mengatakan bahwa asal mula Valentine itu berkaitan dengan St. Valentine. Ia adalah seorang pria Roma yang menolak melepaskan agama Kristen yang diyakininya.
Ia meninggal pada 14 Februari 269 Masehi, bertepatan dengan hari yang dipilih sebagai pelaksanaan 'undian cinta'. Legenda juga mengatakan bahwa St. Valentine sempat meninggalkan ucapan selamat tinggal kepada putri seorang narapidana yang bersahabat dengannya. Di akhir pesan itu, ia menuliskan : "Dari Valentinemu".
Sementara itu, ada cerita lain yang mengatakan bahwa Saint Valentine adalah seorang pria yang membaktikan hidupnya untuk melayani Tuhan di sebuah kuil pada masa pemerintahan Kaisar Claudius. Ia dipenjarakan atas kelancangannya membantah titah sang kaisar. Baru pada tahun 496 Masehi, pendeta Gelasius menetapkan 14 Februari sebagai hari penghormatan bagi Valentine.
Akhirnya secara bertahap 14 Februari menjadi hari khusus untuk bertukar surat cinta dan St. Valentine menjadi idola para pecinta. Datangnya tanggal itu ditandai dengan pengiriman puisi cinta dan hadiah sederhana, semisal bunga. Sering juga untuk merayakan hari kasih sayang ini dilakukan acara pertemuan besar atau bahkan permainan bola.
Di AS, Miss Esther Howland tercatat sebagai orang pertama yang mengirimkan kartu valentine pertama. Acara Valentine mulai dirayakan besar-besaran semenjak tahun 1800 dan pada perkembangannya, kini acara ini menjadi sebuah ajang bisnis yang menguntungkan.
Perlahan semarak hari kasih sayang ini merebak keluar dan menular pada masyarakat di seluruh dunia dibumbui dengan versi sentimental tentang makna valentine itu sendiri. Bahkan anak-anak kecil pun tertular dengan wabah ini, mereka saling berkirim kartu dengan teman-temannya di sekolah untuk menunjukkan rasa sayang mereka.

Sejarah Hari Valentine

Asal mula hari Valentine tercipta pada jaman kerajaan Romawi. Menurut adat Romawi, 14 Februari adalah hari untuk menghormati Juno. Ia adalah ratu para dewa dewi Romawi. Rakyat Romawi juga menyebutnya sebagai dewi pernikahan. Di hari berikutnya, 15 Februari dimulailah perayaan 'Feast of Lupercalia.'
Pada masa itu, kehidupan belum seperti sekarang ini, para gadis dilarang berhubungan dengan para pria. Pada malam menjelang festival Lupercalia berlangsung, nama-nama para gadis ditulis di selembar kertas dan kemudian dimasukkan ke dalam gelas kaca. Nantinya para pria harus mengambil satu kertas yang berisikan nama seorang gadis yang akan menjadi teman kencannya di festival itu.
Tak jarang pasangan ini akhirnya saling jatuh cinta satu sama lain, berpacaran selama beberapa tahun sebelum akhirnya menikah. Di bawah pemerintahan Kaisar Claudius II, Romawi terlibat dalam peperangan. Claudius yang dijuluki si kaisar kejam kesulitan merekrut pemuda untuk memperkuat armada perangnya.
Ia yakin bahwa para pria Romawi enggan masuk tentara karena berat meninggalkan keluarga dan kekasihnya. Akhirnya ia memerintahkan untuk membatalkan semua pernikahan dan pertunangan di Romawi. Saint Valentine yang saat itu menjadi pendeta terkenal di Romawi menolak perintah ini.
Ia bersama Saint Marius secara sembunyi-sembunyi menikahkan para pasangan yang sedang jatuh cinta. Namun aksi mereka diketahui sang kaisar yang segera memerintahkan pengawalnya untuk menyeret dan memenggal pendeta baik hati tersebut.
Ia meninggal tepat pada hari keempat belas di bulan Februari pada tahun 270 Masehi. Saat itu rakyat Romawi telah mengenal Februari sebagai festival Lupercalia, tradisi untuk memuja para dewa. Dalam tradisi ini para pria diperbolehkan memilih gadis untuk pasangan sehari.
Dan karena Lupercalia mulai pada pertengahan bulan Februari, para pastor memilih nama Hari Santo Valentinus untuk menggantikan nama perayaan itu. Sejak itu mulailah para pria memilih gadis yang diinginkannya bertepatan pada hari Valentine.

Kisah St. Valentine

Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ketiga. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut, dan ia bukan satu-satunya. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.
Namun sayangnya keinginan ini bertepuk sebelah tangan. Para pria enggan terlibat dalam perang. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasihnya. Hal ini membuat Claudius sangat marah, ia pun segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.
Ia berpikir bahwa jika pria tak menikah, mereka akan dengan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Para pasangan muda menganggap keputusan ini sangat tidak manusiawi. Karena menganggap ini adalah ide aneh, St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.
Ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini diketahui kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tak bergeming dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin, tanpa bunga, tanpa kidung pernikahan.
Hingga suatu malam, ia tertangkap basah memberkati sebuah pasangan. Pasangan itu berhasil melarikan diri, namun malang ia tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis mati. Bukannya dihina, ia malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara.
Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta itu adalah putri penjaga penjara. Sang ayah mengijinkannya untuk mengunjungi St. Valentine di penjara. Tak jarang mereka berbicara selama berjam-jam. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta itu. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar.
Di hari saat ia dipenggal,14 Februari, ia menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis itu atas semua perhatian, dukungan dan bantuannya selama ia dipenjara. Diakhir pesan itu, ia menuliskan: "Dengan Cinta dari Valentinemu."
Pesan itulah yang kemudian merubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.

Tradisi Valentine

-- Selama beberapa tahun di Inggris, banyak anak kecil didandani layaknya orang dewasa pada hari Valentine. Mereka berkeliling dari rumah ke rumah sambil bernyanyi.
-- Di Wales, para pemuda akan menghadiahkan sendok kayu pada kekasihnya pada hari kasih sayang itu. Bentuk hati dan kunci adalah hiasan paling favorit untuk diukir di atas sendok kayu tersebut.
-- Pada jaman Romawi kuno, para gadis menuliskan namanya di kertas dan memasukkan ke dalam botol. lalu para pria akan mengambil sah satu kertas tersebut untuk melihat siapakan yang akan menjadi pasangan mereka dalam festifal tersebut.
-- Di Negara yang sama, para gadis akan menerima hadiah berupa busana dari para pria. Jika ia menerima hadiah tersebut, ini pertanda ia bersedia dinikahi pria tersebut.
-- Beberapa orang meyakini bahwa jika mereka melihat robin melayang di udara saat hari Valentine, ini berarti ia akan menikah dengan seorang pelaut. Sementara jika seorang wanita melihat burung pipit, maka mereka akan menikah dengan seorang pria miskin. Namun mereka akan hidup bahagia. Sementara jika mereka melihat burung gereja maka mereka akan menikah dengan jutawan.
-- Sebuah kursi cinta adalah kursi yang lebar. Awalnya kursi ini dibuat untuk tempat duduk seorang wanita (jaman dahulu wanita mengenakan busana yang sangat lebar). Belakangan kursi cinta dibuat untuk tempat duduk dua orang. dengan cara ini sepasang kekasih bisa duduk berdampingan.
-- Pikirkan lima atau enam nama pria (jika Anda wanita) atau lima atau enam nama wanita (jika Anda pria) yang ingin Anda nikahi. Lalu putralah setangkai apel sambil menyebut nama tersebut satu per satu. Anda akan menikah dengan nama yang anda sebut saat tangkai tersebut lepas dari buahnya.
-- Petiklah sekuntum bungan dandelion yang tengah mengembang. Tiuplah putik-putik pada bunga tersebut, lalu hitunglah putik yang tersisa. Itu adalah jumlah anak yang akan Anda miliki setelah menikah.
-- Jika Anda memotong sebuah apel pada tengahnya dan menghitung jumlah biji di dalamnya, ini juga bisa menunjukkan jumlah anak yang akan Anda miliki setelah menikah.
Terlepas dari semua tradisi dan mitos Valentine tersebut, hari Valentine tetap jadi hari yang dinanti sebagian orang. Meski untuk menunjukkan rasa sayang tak perlu harus menunggu sampai 14 Februari dan tak harus selalu membanjiri yang tersayang dengan hadiah, karena perhatian dan kasih sayang bisa kita wujudkan setiap hari. Semoga kasih sayang selalu melimpahi kita setiap hari!


Notes GMKI Komisariat UNPAD

Anggur Cinta

"Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur" Kidung 1:2

Bukankah cinta itu sesuatu yang menakjubkan? Coba pikirkan tentang cinta pertama Anda; debaran dan kegembiraan yang Anda rasakan ketika ada seseorang yang mencintai Anda! Ketika saudara perempuan Anda selalu mengingatkan Anda betapa menyebalkannya Anda, dan kaus kaki Anda adalah kaus kaki yang paling bau di seluruh dunia, ada wanita lain yang harum dan secantik bunga yang mengatakan Anda sungguh manis!

Lalu Anda menikahi sang bunga, dan menikmati keharumannya selama bertahun-tahun, sampai satu hari, Anda terbangun dan menyadari keharuman itu telah hilang. Anda melihat si pengantin muda Anda, dan waktu telah meninggalkan jejak di dirinya. Anda melihat cermin, dan bayangan Anda sendiri tidak Anda kenali. Kemanakah cinta telah pergi?

Dalam kebanyakan kasus, cinta itu masih tetap ada disana, tetapi telah melalui beberapa perubahan positif dan negatif. Cinta telah berubah ke arah lebih baik melalui pendalaman akan pengertian yang baru dan lebih berkembang mengenai apa cinta itu. Cinta bukan mengenai hubungan seksual, makan malam romantis dan berdansa di malam hari, tetapi mengenai hubungan dan cinta kasih. Pasangan Anda tidak hanya mengedipkan matanya kepada Anda, tetapi sekarang Anda sekarang yang mengedipkan mata yang pedih ketika ia membantu Anda memasang contact lens. Ketika suami Anda dulunya memandang Anda dengan mesra dari seberang meja makan dan dengan lembut menyuapi Anda dengan jarinya, sekarang ia menyuapi Anda makan pagi, siang dan malam selama 6 minggu karena tangan Anda patah akibat cucu Anda tiba-tiba melompat menimpa Anda! Anda melihat rambut istri Anda dan berpikir kemanakah rambutnya yang dulu hitam legam, dan sekarang hanya ada beberapa bayangan abu-abu.. Anda memegang sendiri kepala Anda hanya untuk merasakan licinnya kepala Anda sekarang.

Yah, waktu telah berubah banyak bagi Anda berdua, dan ketika Anda memikirkan kenyataan ini, sudut bibir Anda bergerak naik dan Anda senang Anda tidak sendirian dalam melewati transformasi alamiah ini. Anda berpaling kepada pasangan Anda dan tersenyum tanpa alasan yang jelas, dan ia kembali berpikir Anda sedang pada "masa senioritas" yang lain!

Dan untuk yang negatif, perubahan negatif itu tidak PERLU terjadi, tetapi sedihnya, dalam pernikahan, hal itu sering terjadi karena kita sering saling meremehkan. Kita berpikir hal yang tersulit adalah bagian memasukan cincin ke dalam pasangan kita dan sekarang, kita dapat duduk-duduk santai dan menikmati masa indah selamanya. Dan ketika masa indah itu tidak datang, kita mulai marah, merasa frustrasi dan menyalahkan, "Ia tidak bersikap sama kepada saya seperti dulu!" ujar Anda.

Bagaimana dengan Anda? Bagaimana sikap ANDA terhadap pasangan Anda? Apakah Anda berkata-kata dengan kata-kata pedas dan mengharapkan respon semanis madu? Bagaimana dengan tindakan Anda sendiri? Apakah Anda mengacuhkan kebutuhan pasangan Anda sementara Anda menginginkan ia memenuhi kebutuhan Anda?

Sebagaimana ayat itu membandingkan cinta dengan anggur, pernikahan seperti layaknya kebun anggur harus dirawat, disiram dan dipupuk jika Anda menginginkan buah anggur yang manis dan lezat untuk dibuat anggur. Jika tidak, kebun anggur itu akan mulai mati dan mengering, dan air yang keluar dari buah anggur itu terasa asam.

Cinta dalam pernikahan LEBIH nikmat dibandingkan dengan anggur, karena seperti rasa anggur yang semakin enak seiring dengan berlalunya waktu, cinta kasih yang terpelihara memiliki kemampuan untuk menumbuhkan karakter dan intensitas. Minuman terenak!!

Hal yang sama juga berlaku dalam hubungan kita dengan Tuhan. Mengacuhkan hubungan kita akan menyebabkan kepahitan jiwa dan kehancuran terhadap keselamatan yang telah kita peroleh.