Sunday, March 18, 2012

Momentum Kenaikan BBM Dinilai Tak Tepat

Jakarta -- Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PDIP Arif Budimanta menuturkan, secara konstitusi setiap rakyat di Indonesia berhak atas penghidupan yang layak. Kehidupan yang layak ini tak melihat kelas sosial.

Hal ini diutarakan Arif melihat alasan yang diberikan pemerintah untuk menaikan harga BBM. Pemerintah menganggap subsidi BBM saat ini tak tepat sasaran sebab lebih banyak dinikmati oleh kalangan yang sebenarnya cukup mampu. Untuk itu pemerintah menganggap opsi kenaikan BBM tepat untuk masa sekarang dimana harga minyak mentah dunia juga sedang mengalami kenaikan.

"Disini pemerintah seperti ingin berbagi beban dengan rakyat," ujar Arif dalam acara Polemik Sindo Radio di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (17/3).

Arif, menambahkan kenaikan harga BBM akan berimbas pada kenaikan harga bahan kebutuhan pokok nantinya. Meski kenaikan BBM oleh pemerintah direncanakan hanya berlangsung selama 9 bulan. Namun Arif menyangsingkan harga bahan kebutuhan pokok yang ikut naik bersama harga BBM akan turun setelah 9 bulan mendatang.

Arif juga membantah jika pengurangan subsidi BBM dapat meringankan bagi APBN negara. Sebab menurutnya penambahan pendapatan negara menurut RUU APBNP 2012 ada dari beberapa sumber yang bisa dimanfaatkan pemerintah. Seperti PPH Migas dan penerimaan SDA Minyak bumi lebih kurang Rp40 triliun.

Jika pun harus menaikan harga BBM Arif menilai pemerintah mengambil momentum yang tak tepat. Apabila ada penambahan dari migas, dan penerimaan pendapatan lain seperti pajak perdagangan internasional Rp 4 triliun, hasil penghematan anggaran K/L sebesar Rp18 triliun. Dana tersebut sudah lebih dari cukup untuk membiayai subsidi BBM dan LPG dari Rp123,6 triliun menjadi Rp137,4 triliun." Saat ini momentumnya tak tepat, pemerintah masih punya uang lebih dari cukup untuk menutupi kenaikan harga minyak dunia," ujar dia.

Selain itu Arif meminta pemerintah untuk memperbanyak Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas. Sebagai alternatif bahan bakar bagi masyarakat. "Pada era orde baru kita punya 47 SPBG, tapi kenapa sekarang hanya punya 4 yang aktif," Ujarnya.

Selain itu ia juga berharap pemerintah segera memperbaiki sarana pra sarana dan infrastruktur agar peghasilan masyarakat bisa meningkat. Dengan begitu maka akan meningkatkan daya beli masyarakat. Jika daya beli masyarakat telah tinggi barulah kenaikan BBM dinilai tepat untuk diterapkan.

Sementara saat disinggung mengenai masa periode Megawati yang juga pernah menaikan harga BBM, Arif mengatakan masa tersebut adalah periode krisis yang tidak bisa disamakan dengan periode saat ini.

Sumber: Republika

Tuesday, February 28, 2012

KEHIDUPAN BERSAKSI DAN TANTANGAN KEPEMIMPINAN

Oleh: Sahat H.M.T. Sinaga, S.H, M.Kn,


Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun fungsional. Banyak muncul pengertian-pengertian mengenai pemimpin dan kepemimpinan, diantaranya : Pemimpin adalah figur sentral yang mempersatukan kelompok. Kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam kelompok, dalam proses mengontrol gejala-gejala sosial. Kepemimpinan sebagai suatu kemampuan meng-handle orang lain untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan perbedaan sedikit mungkin dan kerja sama yang besar, kepemimpinan merupakan kekuatan semangat/moral yang kreatif dan terarah. Pemimpin adalah individu yang memiliki program/rencana dan bersama anggota kelompok bergerak untuk mencapai tujuan dengan cara yang pasti.

Dimensi pelayanan tak bisa dilepaskan dari karakter kepemimpinan. Menjadi pemimpin berarti belajar untuk mendengarkan. Belajar untuk menjadi bijaksana dalam mengambil keputusan. Dalam memimpin dibutuhkan tanggung jawab dan komitmen yang kuat untuk mengangkat semangat hidup. Mendengarkan orang lain, rela turun ke bawah, hidup bersama dengan orang lain tanpa melihat status dan jabatan. Merasakan suka dan duka dengan orang yang dipimpinnya. Membangkitkan harapan orang lain yang hilang karena persoalan kemanusiaan yang dialami. Pemimpin tahu kondisi hidup orang lain yang didampingi.

Model kepemimpinan Yesus, menjadi model kepemimpinan para pelayan umat masa kini. Yesus adalah pemimpin yang berjiwa pelayan, bukan pelayan yang berjiwa pemimpin. Ia adalah pemersatu dan sumber keselamatan. Ia hadir di tengah umat-Nya dan menjadi sumber sukacita abadi. Ia berjalan sambil mewartakan kabar baik. Ia Sang Pemimpin sejati. Model kepemimpinan-Nya dinyatakan dalam pelayanan tanpa pamrih. Inilah model pelayanan sejati.

Kesaksian hidup seorang pemimpin, penting di tengah umat. Kehadirannya masih dirindukan dan dinantikan umat. Cara sang pemimpin umat berada dan keberadaannya, ditantang untuk berjuang bersama orang lain. Terjun dalam realitas hidup yang kompleks. Berani bersaksi di tengah badai jaman yang bergelora. Bersama umat, ia membangun semangat persaudaraan, kerja sama, solidaritas, saling menghargai satu sama lain agar terciptalah iklim hidup bersama yang aman, damai dan sejahtera. Membangun keterbukaan dan saling mendukung dalam karya dan peran masing-masing. Dengan membangun kesaksian hidup yang nampak dalam keteladanannya, maka kerinduan umat akan pelayan umat yang berkualitas bisa terjawab.

Bila keteladanan seorang pemimpin tidak ditampakkan dalam perbuatannya, maka hal itu sia-sia, tidak ada hasil. Kalai ia cerdas, bijaksana, sopan, cara berbicaranya bagus, tentu orang akan memberi apresiasi. Ini masih dalam tingkat budaya verbal. Tapi ketika ide-ide itu tidak membumi, banyak orang akan mengatakan, tadi yang disampaikan di mimbar adalah candu. Orang akan dibuatnya terpesona sesaat namun dampaknya melemah karena sikap hidupnya tidak sesuai dengan apa yang dikatakan. Pengembangan sikap hidup yang baik, menjadi kriteria utama.

Dalam praktek kehidupan masa kini dimana kecenderungan hidup dalam takaran materi, kerap kali orang "tergoda" untuk melanggar norma dan hukum, bahkan firman Tuhan, dalam kerangka untuk mengumpulkan harta dan mendapat posisi "terhormat". Menghadapi hal yang dimulai tentu memerlukan "tahan uji" dan senantiasa "mengucap syukur" atas apa yang dianugerahkan Tuhan kepada saya. Peran pengaruh lingkungan sekitar (terutama istri dan anak-anak) dalam keluarga sangat besar dalam menjalani sikap kepemimpinan yang konsisten. Dengan demikian hidup pemimpin mestilah senantiasa belajar untuk menjadi "yang dipimpin" oleh Tuhan Allah mendekatkan diri dalam persekutuan-persekutuan anak-anak Tuhan.


Disampaikan dalam kegiatan "Latihan Organisasi dan Latihan Kepemimpinan Pemuda-Pemudi Bandung"
26 Februari 2012

Friday, November 18, 2011

PARA PAHLAWANKU

by: Alfonsius J.P. Siringoringo


Memperingati Hari Pahlawan yang selalu bangsa kita rayakan setiap tahunnya, memang suatu hal yang biasa di negeri ini. 10 November seolah-olah sama keramatnya seperti 17 Agustus maupun 28 Oktober yang selalu kita rayakan. Tetapi lain halnya dengan tujuan dan maksud dari peringatan hari kebanggaan Republik ini.

Para pejuang yang berperang mengorbankan seluruh kekuatan dari dirinya untuk mengusir para penjajah dan mempertahankan keutuhan Indonesia sebagai negara yang merdeka, ternyata kurang direspon dan di apresiasi dengan baik oleh bangsa kita sendiri. Setiap tetes keringat dan darah yang tercurah dari diri para pejuang kita, telah memberikan makna dan arti bagi setiap perjuangan bangsa ini dalam memperebutkan serta mempertahankan kemerdekaan. Satu impian yang para pejuang kita harapkan hanyalah: agar anak-cucunya dapat hidup tenang, sejahtera dan bersatu sebagai negara yang merdeka.

Para pejuang kita telah menitipkan bangsa ini terhadap generasi setelah mereka, agar bangsa ini tetap bertahan sebagai negara yang merdeka, bebas dari penjajahan bahkan menjadi negara yang besar dan makmur di mata dunia. Mereka memberikan kepercayaannya bagi kita untuk melanjutkan perjuangan keras mereka.

Setelah 66 tahun merdeka, bangsa ini terus maju dan berkembang menyaingi negara-negara besar di dunia, seperti Amerika Serikat, China, Jepang, Jerman dan lainnya. Meskipun di dalam proses dan perjalanan perkembangan bangsa ini terdapat gonjang-ganjing dan kesemrawutan di dalam pemerintahannya, tetapi sampai sekarang bangsa ini masih mampu bertahan dari permasalahan yang menimpa negara-negara di dunia.

Perkembangan yang terlihat dari bangsa ini, ternyata tidak dirasakan langsung buah manisnya oleh “para pejuang” kita yang telah rela berkorban mempertaruhkan nyawanya demi kemerdekaan bangsa kita hingga saat ini. Sangat banyak pejuang yang telah gugur di medan perang, tetapi tidak sedikit juga yang masih dapat bertahan selama perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Meskipun masih ada yang dapat bertahan hidup hingga saat ini, terdapat pula yang hidup dengan cacat fisik akibat perjuangan yang telah mereka lakukan dalam sejarah bangsa ini.

Perjuangan yang telah mereka lakukan terhadap bangsa ini, ternyata tidak semuanya ditanggap positif. Mengapa? Karena mereka dibiarkan begitu saja oleh bangsa kita, tidak diurus dan diperhatikan, malah dibiarkan begitu saja bagaikan cerita angin lalu yang berhembus. Apakah ini balasan yang sepatutnya kita berikan bagi mereka? Dimana letak hati nurani generasi saat ini? Tidakkah Anda sadar bahwa perbuatan yang kita lakukan ini telah melukai hati terdalam dari para pejuang kita? Inikah balasan yang harus mereka terima, hanya sekedar mendapat selembar kertas penghargaan dari negara tanpa adanya tindakan/respect dari bangsa kita? Mereka pun hanya sekedar menyimpan kertas tersebut di dalam lemari hingga berdebu atau pun hanya sebagai hiasan tembok rumah sederhana mereka yang hampa. Begitu kejinya balasan yang harus mereka terima atas perbuatan mulia yang telah mereka lakukan demi kesenangan dan kebahagiaan anak-cucunya di masa yang akan datang.

Mereka sedih melihat perpecahan terhadap anak cucunya dan saling memusuhi satu sama lain hanya karena ideologi-ideologi dari setan yang mengajarkan kebencian dan permusuhan terhadap ketenteraman dan kesatuan umat manusia. Mereka menangis melihat keadaan bangsa saat ini yang bobrok integritasnya, KKN merajalela, banyaknya pulau-pulau yang lepas dari NKRI, serta dipecundanginya bangsa ini oleh negara lainnya yang menyebut bangsa kita sebagai bangsa babu! Dimana harga diri kita,hei generasi?


Hei manusia, sadarlah engkau, mereka tidak butuh tanda jasa, apalagi selembar kertas yang tidak tahu untuk apa akan mereka gunakan. Mereka hanya butuh perhatian dari kita. Mereka hanya ingin diperhatikan, itu saja, tidak lebih!!!


Belumkah kita sadar betapa sakitnya hati mereka ketika mereka masih menanggung beban hidup yang berat ini tanpa adanya perhatian dari kita. Di masa tua mereka pun, mereka masih tetap semangat untuk bekerja sebagai tukang becak, jualan es, makanan tradisional, bahkan pengumpul rumput dan kayu untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Hanya ucapan syukur kepada Sang Ilahi lah yang mereka ucapkan ketika bisa makan sekali dalam satu hari. Nasib seperti inikah yang harus selalu mereka tanggung setiap hari? Sungguh tak sebanding dengan perjuangan yang telah mereka perbuat selama hidup mereka.

Senyum, tabah dan selalu bersyukur..... hanya itulah prinsip hidup yang mereka pertahankan selama ini melihat sikap dan balasan dari bangsa yang telah mereka bela dan perjuangkan. Sungguh mulia perbuatanmu Para Pahlawanku. Doa yang selalu engkau titipkan kepada Sang Ilahi untuk memberkati bangsa ini, sungguh tak ternilai harganya melebihi apapun.

INI SAATNYA BAGI GENERASI MUDA BERSATU UNTUK BERTINDAK SEBAGAI PENGGERAK KEMAJUAN BANGSA INI KE DEPANNYA. JANGAN ADA LAGI PERPECAHAN, SANGAT BANYAK TANTANGAN DI DEPAN MENANTI KITA SAHABAT, MARI KITA LANJUTKAN PERJUANGAN MEREKA, DENGAN MEMULAI DARI HAL YANG KECIL HINGGA YANG BERDAMPAK BESAR. KITA BISA! YAKINLAH IMPIAN KITA DI DEPAN AKAN TERCAPAI.


UT OMNES UNUM SINT