Materi Diskusi Internal
GMKI Komisariat UNPAD
Topik:
Tenaga Kerja Indonesia: Problema dan Solusi?
Oleh: Ericko Sinuhaji (FH UNPAD’08)
Pahlawan devisa. Sebutan ini pasti sudah sangat dikenal. Ya, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) merupakan pihak yang disematkan julukan ini. Penyebabnya tidak dapat dibantah lagi. Mereka menyumbang pemasukan yang sangat besar buat negara. Untuk 2011, pengiriman uang dari TKI selama kuartal pertama 2011 mencapai US$ 1,6 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Rata-rata TKI mengirimkan uang US$500 juta atau sekitar Rp 4,5 triliun per bulan ke Indonesia sebagai pemasukan bukan migas. Dengan kontribusi yang luar biasa ini, menjadi aneh saat TKI hingga saat ini masih belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah terkait perlindungan dan penempatan mereka.
Kita tidak usah menutup mata terhadap apa yang terjadi. Banyak sekali kasus yang terjadi yang belum tertangani hingga saat ini dan jumlahnya terus bertambah. Sebagai contoh, kasus penembakan terhadap TKI yang baru-baru ini terjadi terhadap tiga orang asal NTB. Bahkan kasus ini sampai mensinyalir telah terjadi pencurian organ tubuh walaupun belum jelas kebenarannya. Belum lagi jika kita ungkap “cacat” dalam kasus-kasus seperti pemenggalan Ruyati dan seterusnya.
Keseluruhan hal tersebut lah yang bisa menggiring kita pada pertanyaan apakah sebenarnya negara abai terhadap hak-hak TKI? Apakah negara hanya ada saat menerima keuntungan dari kerja keras TKI dan menghilang saat mereka kesulitan? Kita harap jawabannya bukan “ya”.
Banyak sekali aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam permasalahan TKI. Akan sangat memakan waktu jika pembahasan itu dilakukan terhadap seluruh aspek yang ada. Untuk itulah penulis membatasi aspek yang akan dibahas dalam hal ini. Menurut Friedmann, dalam menganalisa hukum ada tiga aspek yang harus dilihat, yaitu structure, substance, dan culture. Jika kita bandingkan dengan definisi menurut Prof. Mochtar (asas, lembaga, kaidah dan proses), maka aspek-aspek yang “penting” untuk diperhatikan itu melingkupi peraturan, lembaga yang menangani, dan fenomena-fenomena yang terjadi.
Untuk itu ada beberapa pertanyaan yang dapat digunakan sebagai bahan diskusi kita kali ini:
1. Pihak-pihak mana sajakah yang terkait dalam permasalahan seputar TKI ini?
2. Bagaimanakah sebenarnya proses pengiriman dan perlindungan TKI dari awal hingga akhir?
3. Adakah pihak yang bersalah atas permasalahan ini?
4. Bagaimanakah solusi atas permasalahan seputar TKI ini?
Tuesday, May 29, 2012
Friday, May 4, 2012
Hubungan Antara Presiden dan Wakil Presiden
-Kuliah Umum HTLN oleh Bapak Jusuf Kalla-
Konstitusi telah mengatur semua tentang tugas dan wewenang Presiden maupun Wakil Presiden serta tata cara mengenai pengangkatan dan pemecatannya. Perlu diingat bahwa Indonesia telah memiliki 6 Presiden, yaitu: Soekarno, Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid (Gusdur), Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan 11 Wakil Presiden, yaitu mulai dari M. Hatta sampai Boediono.
Untuk menjadi Wakil Presiden, haruslah selangkah di belakang Presiden dan 1 ton suara di bawah Presiden. Dalam UUD 1945 sangat sederhana mengatur tentang Presiden dan Wakil Presiden, dimana Wakil Presiden hanya bertugas mendampingi Presiden selama kepemimpinannya. Di pemerintahan orde lama dan baru, Wakil Presiden tergantung dari Presidennya, sedangkan sekarang keduanya harus memiliki kemampuan untuk mendapatkan suara dari rakyat.
Di zamannya, Bung Karno 9 tahun memimpin tanpa Wakil Presiden, karena sejak dulu Presiden dan Wakil Presiden tidak kompak. Harus diketahui bahwa tidak ada Wakil Presiden yang menjabat lebih dari 1 kali kepemimpinan.
Jadi, mengapa Wakil Presiden tidak ada yang lebih dari 1 kali menjabat? Kemungkinan terbesar adalah hubungan Presiden dan Wakil Presiden tidak pernah ada yang kompak.
Tugas Wakil Presiden hanya membantu Presiden dalam tugasnya (berdasarkan UUD 1945) dan mewakili Presiden apabila sedang di luar negeri. Membantu Presiden, tetapi Wakil Presiden tidak memiliki kewenangan yang besar, kewenangan yang dimaksud adalah dalam hal kewenangan tanda tangan mengenai Surat Keputusan. Kita hanya mendengar Keputusan Presiden, Gubernur, dan sebagainya, tetapi tidak pernah mendengar Keputusan Wakil Presiden bukan...
Cuma ada 2 keputusan Wapres semasa saya menjabat Wakil Presiden, ucap Jusuf Kalla, yaitu: Nomor Keputusan X dan Keputusan yang salah kop surat.
Tugas Wakil Presiden seterusnya yaitu menggantu Presiden dalam keadaan terpaksa, seperti contoh Habibie yang menggantikan Soeharto dan Megawati yang menggantikan Gusdur. Jadi, bagaimana Wakil Presiden membantu Presiden dengan benar, karena membantu juga harus dengan kewenangan?
1. Tergantung persetujuan awal dari Presiden dan Wakil Presiden (komitmen awal);
2. Tergantung pada kemampuan masing-masing Presiden dan Wakil Presiden, tetapi harus dibarengi dengan formal;
3. Membuat notulen, Wakil Presiden tidak boleh duduk manis karena melanggar Konstitusi, serta;
4. Dibarengi dengan cara yang fair.
Selain itu, perlu adanya komunikasi politik. Komunikasi politik agar berjalan, dilakukan dengan menjelaskan tujuan, cara dan arah, serta jangan ada yang mengambil keuntungan atau kepentingan pribadi. Hubungan Presiden dan Wakil Presiden kuncinya ada di komunikasi politik dan komunikasi politik itu pun tergantung dari tingkat perhatian dari para pihak yang bersangkutan.
Penulis: Alfonsius JP Siringoringo
Konstitusi telah mengatur semua tentang tugas dan wewenang Presiden maupun Wakil Presiden serta tata cara mengenai pengangkatan dan pemecatannya. Perlu diingat bahwa Indonesia telah memiliki 6 Presiden, yaitu: Soekarno, Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid (Gusdur), Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan 11 Wakil Presiden, yaitu mulai dari M. Hatta sampai Boediono.
Untuk menjadi Wakil Presiden, haruslah selangkah di belakang Presiden dan 1 ton suara di bawah Presiden. Dalam UUD 1945 sangat sederhana mengatur tentang Presiden dan Wakil Presiden, dimana Wakil Presiden hanya bertugas mendampingi Presiden selama kepemimpinannya. Di pemerintahan orde lama dan baru, Wakil Presiden tergantung dari Presidennya, sedangkan sekarang keduanya harus memiliki kemampuan untuk mendapatkan suara dari rakyat.
Di zamannya, Bung Karno 9 tahun memimpin tanpa Wakil Presiden, karena sejak dulu Presiden dan Wakil Presiden tidak kompak. Harus diketahui bahwa tidak ada Wakil Presiden yang menjabat lebih dari 1 kali kepemimpinan.
Jadi, mengapa Wakil Presiden tidak ada yang lebih dari 1 kali menjabat? Kemungkinan terbesar adalah hubungan Presiden dan Wakil Presiden tidak pernah ada yang kompak.
Tugas Wakil Presiden hanya membantu Presiden dalam tugasnya (berdasarkan UUD 1945) dan mewakili Presiden apabila sedang di luar negeri. Membantu Presiden, tetapi Wakil Presiden tidak memiliki kewenangan yang besar, kewenangan yang dimaksud adalah dalam hal kewenangan tanda tangan mengenai Surat Keputusan. Kita hanya mendengar Keputusan Presiden, Gubernur, dan sebagainya, tetapi tidak pernah mendengar Keputusan Wakil Presiden bukan...
Cuma ada 2 keputusan Wapres semasa saya menjabat Wakil Presiden, ucap Jusuf Kalla, yaitu: Nomor Keputusan X dan Keputusan yang salah kop surat.
Tugas Wakil Presiden seterusnya yaitu menggantu Presiden dalam keadaan terpaksa, seperti contoh Habibie yang menggantikan Soeharto dan Megawati yang menggantikan Gusdur. Jadi, bagaimana Wakil Presiden membantu Presiden dengan benar, karena membantu juga harus dengan kewenangan?
1. Tergantung persetujuan awal dari Presiden dan Wakil Presiden (komitmen awal);
2. Tergantung pada kemampuan masing-masing Presiden dan Wakil Presiden, tetapi harus dibarengi dengan formal;
3. Membuat notulen, Wakil Presiden tidak boleh duduk manis karena melanggar Konstitusi, serta;
4. Dibarengi dengan cara yang fair.
Selain itu, perlu adanya komunikasi politik. Komunikasi politik agar berjalan, dilakukan dengan menjelaskan tujuan, cara dan arah, serta jangan ada yang mengambil keuntungan atau kepentingan pribadi. Hubungan Presiden dan Wakil Presiden kuncinya ada di komunikasi politik dan komunikasi politik itu pun tergantung dari tingkat perhatian dari para pihak yang bersangkutan.
Penulis: Alfonsius JP Siringoringo
Monday, April 23, 2012
Belajar dari sosok Ki Hajar Dewantara
Oleh: Alfonsius JP Siringoringo
Siapa yang tidak kenal sosok satu ini di Indonesia? Raden Mas Soewardi Soerjadiningrat atau lebih akrab disebut Ki Hajar Dewantara merupakan salah satu pelopor pendidikan bagi bangsa Indonesia pada zaman penjajahan kolonial Belanda. Selain menjadi tokoh pendidikan Indonesia, beliau juga merupakan tokoh pergerakan nasional bagi bangsa ini di zamannya, politisi serta perintis dunia jurnalistik Indonesia. Pria yang lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 ini berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Bahkan karena besarnya jasa beliau terhadap pendidikan bagi bangsa ini, membuat hari kelahiran beliau pun diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional di Indonesia.
Bapak pendidikan Indonesia yang mendapat gelar doktor honoriscausa dari Universitas Gadjah Mada ini, merupakan pendiri dari perguruan Taman Siswa yang memberikan kesempatan bagi kaum pribumi untuk mengecap indahnya bangku pendidikan. Selain itu, beliau juga turut serta dalam pendirian Budi Utomo bersama kedua rekannya Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo.
Di masa mudanya, beliau menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda), setelah itu melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) namun tidak sampai tamat dikarenakan sakit. Kemudian beliau bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, seperti Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Di masanya, beliau merupakan salah satu penulis handal, karena tulisan-tulisannya begitu komunikatif serta tajam dengan semangat antikolonial. Artikel yang pernah beliau tulis berjudul “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga" dan "Seandainya Aku Seorang Belanda" (Als ik eens Nederlander was), yang dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan Douwes Dekker tahun 1913. Isi artikel ini adalah kritik tajam terhadap pemerintah kolonial. Akibat dari tulisannya tersebut, ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka atas permintaan beliau sendiri. Namun, kedua rekannya yang akrab disebut dengan tiga serangkai bersama beliau (Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo) memprotes hal tersebut dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda pada tahun 1913.
Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, beliau juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo tahun 1908, beliau aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia, terutama Jawa pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara, serta membidani Kongres pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta. Karena, dalam pengasingannya di Belanda, beliau memanfaatkannya untuk aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia. Dari sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga akhirnya memperoleh Europeesche Akte, yaitu suatu ijazah pendidikan yang bergengsi dan kelak menjadi dasar dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya yaitu Perguruan Nasional Tamansiswa.
Dalam Pemerintahan Indonesia pun, beliau merupakan Menteri Pengajaran Pertama dalam kabinet pertama Republik Indonesia di bawah pimpinan Presiden Soekarno. Bagian dari semboyan sistem pendidikan ciptaan beliau, yaitu tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia hingga saat ini.
Kita sangat rindu menanti Ki Hajar Dewantara berikutnya yang peduli akan pendidikan dan nasib bangsa ini, yang lebih banyak berbuat dan bertindak dari pada hanya sekedar berbicara panjang lebar mengkritik permasalahan bangsa yang ada tanpa berbuat apa-apa untuk kemajuan bangsa kita. Mari kita manfaatkan masa muda kita, berbuatlah untuk bangsa ini, mulailah dari hal-hal kecil, yang biasa dilupakan oleh orang-orang di sekitar anda. Yakinlah tidak ada suatu tindakan positif yang sia-sia jika niat kita melakukannya dengan hati yang ikhlas dan tanpa mengharapkan balasan. "Memang sulit untuk mengatakan apa yang tidak mungkin, sebab angan-angan yang kemarin menjadi harapan hari ini, dan menjadi kenyataan hari esok"(Robert H.Goddard).
Tinggi iman, Tinggi ilmu, Tinggi Pengabdian.
UOUS
Siapa yang tidak kenal sosok satu ini di Indonesia? Raden Mas Soewardi Soerjadiningrat atau lebih akrab disebut Ki Hajar Dewantara merupakan salah satu pelopor pendidikan bagi bangsa Indonesia pada zaman penjajahan kolonial Belanda. Selain menjadi tokoh pendidikan Indonesia, beliau juga merupakan tokoh pergerakan nasional bagi bangsa ini di zamannya, politisi serta perintis dunia jurnalistik Indonesia. Pria yang lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 ini berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Bahkan karena besarnya jasa beliau terhadap pendidikan bagi bangsa ini, membuat hari kelahiran beliau pun diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional di Indonesia.
Bapak pendidikan Indonesia yang mendapat gelar doktor honoriscausa dari Universitas Gadjah Mada ini, merupakan pendiri dari perguruan Taman Siswa yang memberikan kesempatan bagi kaum pribumi untuk mengecap indahnya bangku pendidikan. Selain itu, beliau juga turut serta dalam pendirian Budi Utomo bersama kedua rekannya Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo.
Di masa mudanya, beliau menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda), setelah itu melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) namun tidak sampai tamat dikarenakan sakit. Kemudian beliau bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, seperti Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Di masanya, beliau merupakan salah satu penulis handal, karena tulisan-tulisannya begitu komunikatif serta tajam dengan semangat antikolonial. Artikel yang pernah beliau tulis berjudul “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga" dan "Seandainya Aku Seorang Belanda" (Als ik eens Nederlander was), yang dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan Douwes Dekker tahun 1913. Isi artikel ini adalah kritik tajam terhadap pemerintah kolonial. Akibat dari tulisannya tersebut, ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka atas permintaan beliau sendiri. Namun, kedua rekannya yang akrab disebut dengan tiga serangkai bersama beliau (Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo) memprotes hal tersebut dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda pada tahun 1913.
Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, beliau juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo tahun 1908, beliau aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia, terutama Jawa pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara, serta membidani Kongres pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta. Karena, dalam pengasingannya di Belanda, beliau memanfaatkannya untuk aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia. Dari sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga akhirnya memperoleh Europeesche Akte, yaitu suatu ijazah pendidikan yang bergengsi dan kelak menjadi dasar dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya yaitu Perguruan Nasional Tamansiswa.
Dalam Pemerintahan Indonesia pun, beliau merupakan Menteri Pengajaran Pertama dalam kabinet pertama Republik Indonesia di bawah pimpinan Presiden Soekarno. Bagian dari semboyan sistem pendidikan ciptaan beliau, yaitu tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia hingga saat ini.
Kita sangat rindu menanti Ki Hajar Dewantara berikutnya yang peduli akan pendidikan dan nasib bangsa ini, yang lebih banyak berbuat dan bertindak dari pada hanya sekedar berbicara panjang lebar mengkritik permasalahan bangsa yang ada tanpa berbuat apa-apa untuk kemajuan bangsa kita. Mari kita manfaatkan masa muda kita, berbuatlah untuk bangsa ini, mulailah dari hal-hal kecil, yang biasa dilupakan oleh orang-orang di sekitar anda. Yakinlah tidak ada suatu tindakan positif yang sia-sia jika niat kita melakukannya dengan hati yang ikhlas dan tanpa mengharapkan balasan. "Memang sulit untuk mengatakan apa yang tidak mungkin, sebab angan-angan yang kemarin menjadi harapan hari ini, dan menjadi kenyataan hari esok"(Robert H.Goddard).
Tinggi iman, Tinggi ilmu, Tinggi Pengabdian.
UOUS
Subscribe to:
Posts (Atom)