Wednesday, March 2, 2016

Menulis untuk Indonesia edisi bulan Februari

REALISTIS (?)

Oleh : Daniel Arya. FH UNPAD 2011
( Sebuah ajakan sederhana bagi kawan – kawan )

 “Siang itu, saat makan siang sehabis mengikuti perkuliahan di kelas, datang seorang lelaki berusia senja, terbungkus kemeja kuning lusuh yang aku yakin dulunya putih bersih, berkasut sandal jepit karet yang alasnya sudah tipis terkikis aspal jalanan, tergopoh – gopoh menghampiri kami yang sedang dengan lahapnya menyantap menu makan siang kami. Dengan suara parau kakek tua tadi meminta belas kasihan kami untuk memberi sedikit sedekah. Saya amati kawan – kawan, satu persatu telapak tangan terangkat tanda menolak untuk memberi. Hingga akhirnya kakek tua itu berlalu begitu saja.

Sedikit perbincangan terjadi tentang bersedakah seketika itu juga. Hingga akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa keadaan diri yang masih belum bekerja, uang yang masih “minta dari ortu” adalah alasan untuk tidak memberi. Memang realistis.”
Mahasiswa memang dididik untuk mampu berpikir analitis dan penuh pertimbangan. Realistis memang menjadi sesuatu alasan untuk melakukan ataupun untuk tidak melakukan sesuatu. Sama dengan kisah memberi sedikit sedekah tadi.

Mari Singkirkan sejenak pandangan pribadi akan arti realistis. Terlalu lama salah paham mengelabui kita. Realistis menjadi alasan kita untuk berbuat egois. Realistis menjadi alasan kita untuk membunuh kasih yang pada dasarnya ada di diri manusia. Realistis jadi alasan untuk menutup telinga, menutup mata menutup mulut, menutup nurani kita. Meratapi kekurangan dan keadaan diri, membunuh rasa kemanusiaan kita. Alasan untuk tidak membantu orang adalah karena merasa kita tidak memiliki apa - apa. Bantu diri sendiri dulu, orang lain nanti.

Saya bukan sosok yang terlalu religius, namun masih teringat jelas kisah tentang janda dari sarfat yang memberi dari kekurangannya seperti dikisahkan Alkitab dalam kitab 1 Raja – Raja 17. Situasi sebenarnya tidak memihak pada janda tersebut, sebab dia punya anak yang sedang sakit keras dan dirinya sendiri yang kelaparan, bahkan dikisahkan itu bisa jadi persediaan terakhir untuk janda tersebut. Namun ada seorang pria yang karna keadaan terpaksa butuh pertolongan untuk minuman dan makanan jasmaninya. Mengejutkan saat mengetahui si janda membagi persediaan minuman dan makanannya kepada seorang pria asing yang hanya karena kebetulan lewat. Memberi dengan hati tanpa berpikir realistis. Memberi orang yang benar – benar membutuhkan. Hanya memberi. Sederhana sekali.

Miris melihat generasi muda yang terpelajar, terlihat enggan untuk memberi sedikit kepada mereka yang membutuhkan. Terlalu analitis untuk mengupas berbagai motif seseorang meminta - minta, berujung pada konklusi yang hasilnya stigma negative terhadap mereka yang meminta - minta.

Mari kita bermain dengan “setidaknya”. Setidaknya kita masih bisa makan. Setidaknya masih bisa tinggal di kos. Setidaknya masih bisa memakai baju yang pantas. Setidaknya kita masih muda dan punya peluang untuk memperbaiki nasib lewat pendidikan, bangku kuliah. Setidaknya.

Tanpa menyangkal fakta bahwa memang ada mereka yang menjadikan pengemis sebagai pekerjaan bukan karena desakan situasi, namun mereka yang benar – benar membutuhkan ada di luar sana, tanpa bisa kita bedakan. Semua hadir dengan pakaian lusuh dan suara parau.

Mereka yang mengada – ada sebagai orang yang butuh pertolongan yang karena desakan situasi, membuat banyak masyarakat curiga dan takut berbagi. Takut disalahgunakan lah. Takut salah orang lah. Takut.
Sebagai orang yang percaya Tuhan dan ajaran agamaNya, saya percaya bahwa memberi dengan tulus ikhlas akan diperhitungkan Tuhan. Lukas 6 ayat 38 mengatakan : “Berilah maka kau akan diberi”. Sebuah garansi Ilahi bagi umatNya yang percaya. Memberi sedekah pada orang yang kelihatannya sangat membutuhkan jika dilakukan dengan ikhlas, akan mendatangkan berkat pada kita, terlepas dari motif tidak baik orang yang pura – pura terdesak untuk diberi pertolongan. Namun satu yang pasti, kita tetap terberkati. Jangan takut kekurangan.

Mari berbicara soal semangat memberi. Kita memanusiakan diri kita melalui rasa kemanusiaan itu sendiri. Tanpa mencoba bermaksud menghasut generasi muda untuk mengesampingkan peraturan, apalagi jika pemberian itu melanggar aturan. Tidak. Berpatokan pada aturan saja apalagi salah mengartikannya, dalam hal ini, pada akhirnya melatih diri kita untuk mengeneralisir segala bentuk pemberian pertolongan. Segalanya akan terasa salah. Hingga hanya akan ada “aku, aku, dan aku”. Kepekaan, kemanusiaan itu akan sedikit demi sedikit tergerus. Dimulai dari adanya semangat memberi, akan berlanjut dengan kemampuan untuk memilah bentuk pertolongan dan siapa yang akan dibantu. Alangkah indahnya.

Apa yang coba saya sampaikan adalah jangan selalu menekankan berpikir realistis,apalagi menjadikan realistis sebagai alasan untuk belum berbagi, karena pada akhirnya nurani kita akan tertutup oleh stigma negatif. Mengapa tunggu saat mapan baru memberi? Mengapa tunggu berada di posisi penting di negeri ini baru berniat mengubah nasib mereka melalui kebijakan - kebijakan? Mengapa harus tunggu awal bulan saat kiriman dari orang tua datang baru terpikir untuk memberi? Mengapa harus tunggu berpenghasilan sendiri baru memberi? Mengapa harus tunggu? Kebaikan seharusnya tidak mengenal waktu. Kasih mengajarkan kita hal itu.

Kasih tidak terbatas oleh waktu dan tempat. Dan kasih itu universal, bukan hanya dimiliki oleh orang Kristen saja, apalagi hanya memberi pada orang Kristen saja. Saya mengajak generasi muda untuk mulai mengimplementasikan kasih dimulai dari hal – hal sederhana yang sangat mungkin untuk kita lakukan. Dunia ini membutuhkan lebih banyak lagi kasih. Indonesia butuh lebih banyak lagi kasih. Mari mulai dari diri sendiri. Mari kita sebarkan kasih itu.
Jika ada, berbagi saja, jangan tunggu, jangan takut, sederhana sekali.

Oleh : Daniel Arya. FH UNPAD 2011

No comments:

Post a Comment